Ibu yang Profesional

mom-laughing

Lebih dari satu dekade lalu, saya bertransisi dari pengajar BIPA yang ngantor tiap hari menjadi full-time mom. Selesai sudah masa-masa saya pakai rok rapi dan sepatu tinggi, masa-masa memenuhi tas dengan berkas-berkas mengajar dan juga masa-masa menghadiri pertemuan antara staff pengajar. Hari-hari kemudian saya dipenuhi dengan tumpahan makanan bayi, tumpukan laundry dan free-time tanpa akhir.

Dua anak kemudian, saya lantas mulai mengisi hari dengan bisnis dari rumah, menemani anak-anak belajar, tumpukan laundry yang lebih tinggi lagi, dan free-time yang semakin sedikit. Saya juga membuat berton-ton kesalahan dalam perjalanan hidup sebagai ibu.

Tentu saja, jika diberi kesempatan memulai dari awal, saya tidak akan memilih jalan hidup yang lain. Jalan hidup saat ini seratus persen pilihan saya. Lagipula sebenarnya, ada kesamaan antara masa-masa sebagai pekerja dan sebagai ibu. Semuanya harus saya kerjakan secara profesional.

Iya, jadi full time mom tetap harus profesional, sama seperti pekerja kantoran. Misalnya nih ya…

Dress for Success

Saya bisa saja seharian mengenakan daster, tapi hal itu tidak membuat saya merasa produktif, atau memotivasi saya dalam menangani tumpukkan laundry, bermain dengan anak atau menghabiskan tugas-tugas dalam To-Do List. Mengenakan pakaian yang nyaman tapi rapi dan manis membuat perasaan saya lebih bersemangat ketika harus mengerjakan tugas harian.

Menciptakan Rutinitas

Rutinitas membantu suami dan anak-anak saya mengetahui apa yang harus mereka kerjakan dan juga membuat mereka merasa aman. Ia juga membantu saya memanfaatkan setiap menit berharga dengan mereka. Ini alasan saya membuat catatan tugas-tugas rutin di rumah setiap malam sebelum tidur, dan menempelkannya di papan tulis khusus dekat lemari pendingin. Suami dan anak-anak akan membacanya keesokan pagi (dan ini menjadi kebiasaan – yang jika satu hari saja daftarnya hilang, mereka lantas bingung sendiri mau ngapain, hehe…)

Catatan tugas tersebut isinya daftar hal-hal yang mereka harus selesaikan hari itu. Ke perpustakaan untuk pinjam atau kembalikan buku, les dan latihan ini itu, beli bahan makanan, cuci mobil, benerin keran rusak dan tugas-tugas lainnya. Sebenarnya sih, mereka sudah tahu semua itu, tapi mereka senang jika saya mengurutkannya dalam daftar tugas, itu memudahkan mereka mengisi hari dan menemukan waktu untuk main tanpa gangguan.

Dan, saya juga suka menyelipkan rencana-rencana kecil di akhir  minggu dalam daftar itu, misalnya Pizza Night atau Pancake Sunday. Acara semacam ini membuat kami semua ingat bahwa kami harus selalu menikmati hidup, berdampingan.

Take a Break

Jadi ibu itu pekerjaan 24 jam sehar dan 7 hari seminggu. Cuma saja itu nggak berarti saya harus mengabaikan keinginan untuk menikmati “me” time. Saya selalu merencanakan satu hari libur, kapan pun saya mau. Jika tak mungkin, saya akan mencari satu jam waktu untuk ngopi tanpa gangguan, tanpa ngapa-ngapain. Biasanya, ini saya lakukan pagi hari setelah suami berangkat kerja dan anak-anak pergi ke sekolah. Di waktu itu, saya beneran cuma jadi diri sendiri.

Menikmati Waktu dengan Ibu Lain

Dulu, saya pikir, kumpul ibu-ibu itu penuh dengan gosip. Ternyata, itu semua tergantung kita sendiri. Saya sih memilih hanya berteman dengan kelompok ibu-ibu yang memang bisa mengedukasi saya – meski tak ada yang seratus persen bebas dari acara curhat dan bergosip. Kelompok ibu-ibu semacam ini penting buat tukar informasi, saling memberi bantuan, dan yang jelas membuat saya nggak merasa sendirian ketika berhadapan dengan masalah anak (sekarang sih jadi masalah remaja) yang seabrek.

Klien Nomor Satu

Hobi, bisnis, media sosial, bergabung dengan komunitas, bahkan TV – semuanya bisa mengalihkan kita dari keluarga. Kalau ini mulai terjadi, satu hal yang harus saya ingat adalah “Keluarga itu klien utama saya” – tanpa mereka saya kehilangan pekerjaan (sebagai ibu) dan juga kehilangan hati nurani. Benar ada tumpukan laundry yang menggunung, rumah yang selalu kotor meski sudah diberishkan, PR yang mendadak tak butuh bantuan, tapi buat saya semuanya nggak sebanding dengan pelukan, ciuman, cuddling-time, dan ngobrol-ngobrol curhat sebelum tidur dengan mereka. Belum lagi jika ingat bonus cinta yang saya terima dari keluarga saya 🙂

Menikmati Rasa Aman

Sebagai ibu, saya tak tergantikan. Tak ada perempuan lain yang bisa menempati posisi saya sebagai ibu dari anak-anak saya. Orang lain bisa saja membantu menyiapkan makan, mencuci pakaian, menemani belajar – tapi selalu saya yang bisa jadi ibu mereka. Ini sebuah garansi rasa aman dari Tuhan. Rasa aman dari “pekerjaan” ini akan saya nikmati seumur hidup, dan itu membuat saya bahagia dan bersyukur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s