Things at Home that Make Me Happy

Bukan rahasia lagi kalau saya itu orang rumahan. Kasih deh pilihan antara jalan ke mall dan nonton bioskop atau di rumah baca buku sambil ngopi dan ngemil, sudah pasti saya pilih yang terakhir. Jika bukan untuk hang-out dan ngobrol di kafe dengan sahabat-sahabat saya,  berada di rumah adalah hal yang paling saya sukai. Saya bangga jadi orang rumahan,  ini zona nyaman yang barangkali tetap akan saya pertahankan.

Katakan saya kuno, tapi saya suka di rumah dan tak ke mana-mana jika tak perlu. Kalau mungkin, berhari-hari tak keluar rumah pun bukan masalah. Jangan mengira rumah saya super indah seperti di majalah-majalah interior lho – mendekati show room Informa pun tidak.

Rumah saya kecil mungil dan tak banyak isinya, tapi bikin betah. Ada tiga spot favorit di rumah, di mana orang rumah dengan gampang menemukan saya di sana.

table-2587226_640

Ruang Kerja

Ruang ini kecil banget, ukurannya dua kali satu setengah meter persegi dan tak berpintu. Alasannya, saya phobia ruang tertutup, jadi pintu tak terlalu berguna di sini. Di ruang ini, ada satu meja kecil untuk laptop dan alat tulis, satu meja lebih besar untuk meletakkan buku (biasanya buku-buku untuk riset penulisan yang sedang berjalan) dan arsip-arsip kerja, lalu ada satu rak buku besar yang mulai miring. Isinya, tentu saja buku-buku dan kamus. Di luar perabotan itu, hanya ada tiga kontainer plastik yang disusun sembarangan sebab fungsinya hanya untuk menyimpan barang-barang.

Yang saya suka adalah jendela mungil, saya meletakkan meja komputer di bawahnya, jadi saat kerja, saya bisa langsung memandang ke luar rumah, menyapa sinar matahari dan tanaman, mencari inspirasi. Oya, tetangga depan rumah saya memelihara banyak burung, dan setiap pagi dari ruang kerja, saya bisa menikmati kicauan indah mereka. Bener-bener berkah, bisa mendengarkan suara burung tanpa harus susah payah memeliharanya. Selain tak sabaran, saya punya alergi terhadap bulu hewan. Memelihara hewan sama saja dengan membiarkan diri bersin dan gatal sepanjang hari. Jadi, rasanya saya memang harus bersyukur dan berterima kasih pada tetangga itu 🙂

interior-2593805_640

Sofa Kuning

Kami menyebutnya begitu karena warnanya memang kuning. Ia satu-satunya perabot berwarna mencolok di rumah. Sofa minimalis two-seater yang kami beli tahun 2002 ini punya sejarah di baliknya, jadi meski saat ini modelnya sudah tak up-to-date lagi, saya tak akan menukar atau menjualnya. Saya senang duduk membaca berjam-jam di sofa ini. Beberapa bantal besar dan sebuah throw sengaja saya letakkan di sana, agar lebih nyaman.

Hanya ada satu meja di samping sofa ini, tempat meletakkan foto-foto keluarga dan beberapa dekorasi. Saya tak suka membeli pernak-pernik ruang, apalagi yang bentuknya kecil-kecil. Beda dengan teman-teman yang selalu punya deretan patung porselen berbentuk malaikat, bunga-bunga plastik, sejumlah pernik dari luar negeri, atau keramik-keramik Kasongan yang unik. Saya nggak punya itu semua, sebab saya suka jika ruangan seminimalis mungkin.

Barangkali pernik favorit saya hanya tempat lilin saja, itu pun hanya dua. Dekorasi ruangan lainnya biasanya saya buat sendiri, misalnya beberapa lukisan karya sendiri dan juga gambar-gambar yang dibuat oleh anak perempuan saya. Pengisi ruangan kebanyakan adalah buku, sebab kami berempat memang suka baca buku. Saking banyaknya, setiap tahun, kami menyumbangkan buku-buku itu ke mana saja, sebab tak ada ruangan lagi di rumah. Saya cuma punya dua rak buku besar, satu di ruang kerja dan satu lagi di ruang TV.

bell-pepper-569070_640

Dapur

Jangan salah, saya tak suka memasak. Saya memasak karena harus, sebab anak-anak butuh makanan bergizi dan hanya saya yang mampu menyediakan. Meski begitu, masakan saya enak kok, setidaknya di mata suami dan anak-anak, hehe… dan ya, saya suka dapur rumah yang jadi satu dengan ruang makan. Memang sengaja dirancang begitu, karena dari dulu selalu ingin punya dapur dan ruang makan dalam satu area.

Dapur di rumah tidak seperti yang ada di katalog Ikea, tapi bersih dan semua terletak sesuai aturan yang saya mau. Di rumah, saya suka masak berdua dengan anak laki-laki saya. Iya, dia hobi banget masak (jangan tanya kenapa anak perempuan saya enggak, pokonya jangan aja, hehe…). Saya dan anak laki-laki saya suka diskusi soal resep dan menu makanan hari ini. Pokoknya kalau dia nggak terlalu capek (kegiatan sekolahnya banyak), dia pasti bantuin saya menyiapkan makanan.

Dapur ini juga jadi spot favorit keluarga. Meja makan bundar berdiameter seratus duapluh senti jadi tempat makan, tempat belajar bareng, dan tempat ngobrol. Barangkali karena ruangan ini terang dan menghadap ke taman belakang, atau karena banyak camilan di sini, makanya suami dan anak-anak suka sekali ngumpul di sini selain di ruang keluarga.

Iya, ngumpul dengan suami dan anak-anak memang jadi momen paling ditunggu. Anak-anak, dengan segala keributannya, membuat rumah menjadi “rumah”. They make our house a home. Mereka berdua adalah apa yang membuat kami melupakan semua permasalahan di luar rumah. Kadang kami bertengkar, berdebat dan berteriak jika sedang kesal. Normal saja buat sebuah keluarga. Apapun itu, kesenangan berada di rumah selalu dimulai dari kedua anak saya.

Home is not home without them! They’re our world!

 

*ps: saya menggunakan gambar-gambar dari Picography.co sebab saya tak nyaman memotret isi rumah dan mempostingnya di sini 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s