Kangen

Lama banget nggak nge-blog!

Postingan terakhir di sini saya buat tahun 2009, dan itu sudah delapan tahun yang lalu. Keterlaluan memang, mengabaikan blog sendiri begitu lama.

cafe-2618801_1280Entah kenapa, sejak awal tahun ini saya kangen sekali nge-blog dan ngomongin hal-hal remeh. Mungkin saya sedang jenuh, dan ingin kembali mem-publish tulisan panjang seperti sebelumnya.

Belum lama ini saya baca buku tentang awal mula Twitter berdiri, dan saya jadi terkenang-kenang seperti apa internet di masa ketika beragam media sosial mulai bermunculan. Media sosial mengubah cara spesies kita berkomunikasi, berinteraksi dengan orang lain, dan juga mengubah cara kita mengambil keputusan.

Jika ada satu hal yang konstan dalam hidup, itu adalah perubahan. Dan rasanya ini berlaku ketika kita membicarakan internet.

Dan saya rasa tak ada yang buruk tentang perubahan ini. Hanya saja, belakangan media sosial membuat saya capek.

Awal tahun 2005, saya mulai blog ini menggunakan nama Life and Beyond. Tak ada tujuan pasti, hanya memindahkan kebiasaan menulis, dari lembaran kertas di jurnal harian ke media online (eh, tapi saya masih menulis jurnal setiap hari sampai sekarang lho). Dari Life and Beyond, saya berkenalan dengan begitu banyak blogger lain, dan mereka membuat saya kagum. Beberapa dari teman-teman blogger masih bersahabat baik hingga hari ini, meski cuma lewat Facebook, dan hanya satu dua orang yang pernah bertemu langsung.

Blog mengubah dunia saya. Begitu banyak hal positif yang saya dapatkan dari kebiasaan nge-blog, dan main ke blog orang lain. Bertukar pikiran, berbagi ilmu dan cerita menarik (terutama dari para blogger yang tinggal di negara lain). Duh, saya kangen masa-masa itu.

2727198365_92a167b105_b

Iya, masa-masa manis nge-blog itu berakhir di tahun 2009 dengan beberapa alasan. Pertama, saya mulai punya Facebook (dan Twitter setahun kemudian). Kedua, saya tak senang dengan apa yang terjadi dengan ibu Prita Mulyasari. Beliau ditahan hanya karena menuliskan pemikirannya mengenai layanan sebuah rumah sakit. Menurut saya itu benar-benar tak adil, dan saya begitu emosional dengan apa yang dialami ibu Prita sehingga memutuskan untuk mogok nge-blog, dan lebih banyak main di media sosial. (Iya, memang terdengar aneh, tapi saat itu amat masuk akal buat saya)

Alasan ketiga, teman-teman blogger saya juga mulai pindah ke Facebook. Pastinya mereka punya alasan sendiri, tapi media sosial itu memang seperti wadah yang tepat sebab memiliki banyak fitur yang tak dimiliki sebuah blog. Keempat, dan ini adalah alasan terbodoh, blog Life and Beyond hilang, dalam arti kena hack. Domain gratisan astridsavitri.blogspot.com masih ada hingga sekarang, tapi entah dipakai oleh siapa. Semua postingan saya di-delete orang itu, password diganti dan saya enggak bisa menggunakannya lagi.

Beruntung saya selalu rapi dalam mengarsip, sehingga saya masih punya semua tulisan saya di Life and Beyond. Saya lantas menggunakan domain gratisan ini dan pindah ke WordPress lalu memposting ulang semuanya. Sayangnya, puluhan komentar teman-teman sesama blogger yang pernah meramaikan blog saya, tidak bisa diganti. Ini yang bikin sedih, lantas saya beralih ke medsos.

Delapan tahun berlalu, dan saya mulai jenuh dengan medsos. Tiba-tiba begitu banyak berita negatif, kata-kata kasar, permusuhan, sindir menyindir dan hal-hal yang tak pernah ada di awal medsos mulai. Katakanlah, kondisi politik yang memicu hal ini, tapi apapun itu buat saya medsos nggak asyik lagi.

Ketika internet dan cara komunikasi manusia berevolusi, ada satu hal yang tetap sama dalam hidup yaitu kebutuhan untuk istirahat.

Dan saya merasakan hal itu sejak awal tahun ini (oke, mungkin sekitar pertengahan tahun lalu juga sudah). Rasanya, medsos mengalihkan dunia saya, dan mulai membuat saya kehilangan arah dan perspektif. Padahal pekerjaan saya sebagai penulis lepas semakin banyak, jadwal semakin padat, waktu dengan keluarga harus didahulukan, dan kehidupan pribadi saya juga penting. Dan ketika saya begitu ‘sesak nafas’ dengan segala sesuatu tak penting yang terjadi di timeline, saya butuh break. Mundur sebentar dari segala ‘keramaian’ di sana dan mengatur ulang rutinitas saya.

Mulai dengan menghapus aplikasi media sosial dari ponsel, lantas mengatur waktu agar hanya menggunakan media sosial pada jam-jam tertentu. Tak mudah, karena sudah menjadi rutinitas. Apalagi hampir semua teman di medsos sudah saya kenal begitu lama, sulit memutuskan interaksi dengan mereka. Beberapa sahabat juga tinggal di luar negeri, dan media sosial menjadi penghubung utama kami. Jadi, prioritas saya adalah mengatur waktunya saya, bukan meninggalkan semuanya seperti ketika saya meninggalkan blog ini.

Saya mulai detoks media sosial ini sejak April, dan ya rasanya sekarang saya lebih ‘sehat’. Break is really a healthy limits for our souls, and healthier souls is important for our family and work.

Iya, saya masih di sini, masih ada di sekitar dunia maya, meski akan lebih diam dan lebih aktif di dunia nyata. Saya pun nggak tahu apa masih bisa mengurus blog ini, tapi mau saya coba menulis di sini lebih sering lagi. So, see you soon, blog 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s